Sukses, siapa sih orang yang gak mau sukses. Pengusaha mau
di bilang sebagai ‘pengusaha sukses’, guru mau dibilang ‘guru yang sukses’,
tukang ojek payung juga mau di bilang ‘ojek payung yang sukses’ sampai – sampai
nanti pun waria mau di bilang sebagai ‘waria sukses’. (Tolllooonng kiamat sudah
dekatt…. ).
Gue kadang mikir apa sih arti kata ”SUKSES” itu? Kalo
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia SUKSES = berhasil, tercapai, bisa sehingga
dapat gue simpulkan, sukses itu adalah tahap dimana seseorang berhasil mencapai
intensitas kehidupan yang lebih baik. Tetapi sebelumnnya gue mau tanya nih,
‘INTENSITAS’ itu sendiri apa sih??? Entahlah gue juga gak tau, biar keliatan
keren aja gue pake kata itu. Ya intinya sukses itu kita berhasil dalam bidang
yang kita tekuni sekarang.
� � �
Gue kadang berpikir kalo orang pintar itu pasti sukses, tapi setelah gue liat temen gue
(sebut saja cecep) yang menurut gue IQ nya kaya belalang sembah, tenyata punya
nasib yang mujur. Waktu gue tanya setelah lulus dulu :
Gue : Cep, lo abis lulus mau ngapain?
Cecep :
Suka – suka gue donk mau ngapain…
Gue :
Serius gue, mau kemane lo abis lulus nih?
Cecep :
Gue mah simple, ngurus kedai makan warteg bokap gue.
Gue : Sipp deh, semoga sukses ya…
Gue pribadi awalnya gak pernah yakin si cecep bisa mejalani
bisnis itu dengan baik, soalnnya dulu pernah ada pengalaman saat si cecep berbisnis kaos – kaos bola, awalnnya sih dia
sangat antusias buat menjual kaos – kaos tersebut dengan harga Rp. 50.000/ per
kaos, tetapi karena kebutuhan dia yang binal itu lama – lama dia obral kaos nya
dengan harga Rp15.000 /2 kaos #Ngenes. Akhirnnya, dia di kejar – kejar oleh
distributor kaos karena gak bisa menstorkan uang hasil penjualan kaos yang ia
jual. Alhasil bukannya dapet “untung
malah buntung” dan cecep pun menangis di atas tower “TELKOM” buat meratapi
kegalauannya. Tetapi nasib pun berkata lain, setelah berapa tahun tidak
berjumpa, gue secara gak sengaja bertemu dia di Bandar Lampung dan berbincang
dengan dia di sebuah café megah. Penampilan wajah si cecep sih menurut gue gak
ada berubah sama sekali, tapi yang membedakan cecep yang dulu dengan sekarang
adalah pakaian distro yang mewah dan wangi parum yang bikin cewe – cewe
terpesona dan ngacir pengen nyium ketek dia #KorbanIklan. Akhirnya tanpa basa –
basi gue pun berbincang – bincang layaknya kawan lama yang udah 100 tahun gak
bertemu. #LebayModeOn.
“woy brooo, apa kabar, what’s up dude??
Gimana sekarang? Kerja apa kuliah lo cep?”
“whitts za, beh kabar baik gue, alhamdulilah
masih di profesi yang dulu dengan porsi yang sama juga hehehe, loe gimana
kuliahnya? Lancar? Sini – sini nyantai dulu sambil minum kopi”
“(sambil duduk) yeaaaa, gitu deh, kalo
kuliah ya gitu - gitu aja, gimana warteg
lo? Makin maju apa udah bangkrut ???” tanya gue sambil tertawa.
“(sambil tersenyum), yeahhh, ini lo
lagi merasakan indahnnya cafe warteg gue. gimana rasanya?”
Gue
pun mendadak mimisan mendengar si Cecep bilang bahwa café megah ini punya dia
dan dengan nada gak percaya dan gak rela, gue pun bilang:
“Hahh,… gak salah lu Cep??? Ini café
lo?” tanya gue penasaran.
“iya, za. Tu liat namanya gehhh…”
Gue,
pun langsung ngacir kedepan kafe buat mastiin nama kafe tersebut dan ternyata
benar ada papan, se’gede tapir nempel di dinding depan kafe yang berisi
tulisan:
“CAFÉ WARTEHG N’CEP GORBACEP”
Wowww amazing, gue hanya bisa merasa kagum dengan si Cecep,
ternyata dibalik ke’ndesoannya terdapat suatu keberhasilan yang yang luar biasa
terpancar dalam kehidupannya. Padahal dia cuma seorang anak penjual warung
makan pingiran, tetapi dengan kerja keras yang luar biasa dia pun dapat
mengubah nasib sebuah warteg menjadi café MEGAH tanpa kuliah. YA, TANPA KULIAH
MENN!!! Gue pun mengalami migren ringan akibat melihat kesuksesan si Cecep dan
setelah sadar bahwa waktu mulai sore, gue pun berpamitan dengan dia untuk segera
pulang ke rumah, karena jarak Pringsewu dan Bandar Lampung lumayan jauh jika
ditempuh naik motor. Setelah pertemuan gue sama si Cecep minggu lalu, minggu
depannya gue bertemu dengan kakak kelas gue waktu SMA di sebuah mini market
dekat kos – kosan teman gue. Sebut saja namanya Toni. Toni adalah mahasiswa S-1
jurusan Hukum di sebuah universitas swasta di Bandar Lampung. Tapi waktu gue
bertemu dengan dia, gue menemukan kejanggalan dalam penampilan si Toni. Toni
yang seharusnya memakai jas dan celana yang mecing, tetapi yang gue liat sekarang
malah berpenampilan seperti sales
yang punya jam terbang tinggi. Ternyata setelah gue tanya – tanya soal kerjaan,
akhirnya Toni mengaku bahwa dia bekerja di Alfamart lantaran lapangan pekerjaan
yang sekarang memang sulit di cari.
� � �
Akhirnya setelah gue melihat kejadian yang terjadi itu gue
bisa menyimpulkan bahwa sebuah “gelar” yang kita cari – cari di bangku
perkuliahan itu ternyata gak bisa dijadikan jaminan buat dapat meraih
kesuksesan di dunia pekerjaan kita masa depan. Walaupun kita kuliah sampe S-3
pun, kalau kita memang gak punya suatu kreativitas maka kita gak bakalan sukses
dan hanya bakal jadi sia – sia aja gelar yang sudah kita cari dan tempuh itu,
ya intinya mau jadi apakah kita selanjutnya gak bisa di tentuin dari kuliah
atau tidak ,tapi ujung – ujungnya kembali ke individunya apakah dia berani
untuk melangkah kreatif dan inovatif sehingga dapat mencapai kesuksesan itu
dengan sendirinya, tau dia mau statis (diam) atau bahkan mundur kebelakang
dengan hasil bakal merana seumur hidup.
Jadi gue pun udah mengubah jalan pikirian gue yang awalnya
“kuliah itu untuk mencari gelar dan pekerjaan” menjadi “kuliah itu untuk mempersiapkan
gue menjadi pribadi yang lebih kreatif dan inovasi”, sehingga nantinya bukan gue lah yang mencari pekerjaan tetapi
pekerjaan lah yang mencari gue. Karena dalam dunia pekerjaan itu tidak hanya
butuh orang pintar, tetapi dalam dunia pekerjaan itu membutuhkan orang – orang
yang kreatif dan berani berinovasi.
Oke, karena gue udah bingung mau nulis apa lagi, sekian dan terimakasih :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar