9 Agustus 2014

Bukan Sinetron Di TV



RETAK LALU PECAH

Malam sudah semakin larut, suara burung pun membisu seakan tenggelam di dalam pekatnya malam. Yang tersisa hanyalah suara rintihan jangkrik yamg terbenam di balik rimbunnya rumput ilalang  belakang asrama. Kota Kalianda ini sudah hampa diselimuti oleh tenangnya hipnotis alam. Tetapi anehnya mata ini belum bisa menutup dirinya sendiri, seakan – akan dirinya masih berhasrat untuk meresapi heningnya jeritan ombak di malam ini. Aku pun beranjak dari alas tidurku ke arah jendela kamar. Ku lihat dari balik jendela bapak – bapak yang sedang berkumpul di sebuah alas gardu untuk ronda, merokok, tertawa, dan bercanda. Kembali ku duduk di depan kursi belajarku, kurebahkan semua rasa penatku pada kursi ini, menatap beku ke seluruh penjuru kamar, sepintas kamar ini mengingatkan ku pada kerinduan suasana rumah, tapi ya faktanya raga ku bukan berada disana. Mungkin kamar ini terlalu besar untuk di tiduri oleh manusia kerdil semacam aku. Tersadar dari lamunan, ku lihat lentikan jarum jam pun sudah menunjukan  jam 11 malam. Malam ini semakin sepi, aku memejamkan mata sejenak dan mencoba menarik nafas panjang untuk menyeimbangkan kebimbangan dalam bathin ku yang mulai layu terkikis oleh rasa kesal, tetapi tarikan nafas yang panjang ini seakan tidak membantu, malah sebaliknya mata ini semakin tidak mau menempel. Ini bukan pertama kalinya aku sulit merehatkan diri, bukan karena terlalu banyak pikiran, tapi memang seakan – akan tubuh ini memiliki gejolak untuk bisa menaklukan dinginnya malam. Aku kembali beranjak dari lamunan bodohku tadi untuk menuju sebuah kursi pelastik yang berada tepat di depan meja belajarku, aku tenggak sisa air susu yang masih tersisa di dalam ruang gelas untuk menghilangkan rasa kering yang menyelimuti ruang tenggorokan ku.
“Ah, Kampret, ayo dongg mata tidur. Gue besok sekolah nih. Bisa telat besok gue.” Teriakku agak kesal.
Setelah sedikit berteriak tadi, tiba - tiba terdengar suara ketukan dari balik pintu kamarku. Aku sedikit kaget. Siapa yang bertamu larut malam begini?
“Zaa, zaa… Udah tidur ya ?” Seseorang dari balik sana memanggilku dengan suara yang berat, yang tidak lain itu adalah suara kawan ku Nando siswa keturunan padang asli.
“Iya, Uda sebentar…” Jawabku santai, sembari berjalan menuju pintu kamar.
Aku membuka pintu kamar dan melihat sesosok wajah asli keturunan Padang, putih dengan di hiasi alis yang tebal.
“Ado apo uda ini, malam – malam begini mengagetkan awak sajo” jawab ku dengan logat padang bercampur betawi.
“ah sudah jangan mengejejek gue deh lo, eh tu ada anak kecil nyariin elu” kata Nando dengan agak kesal.
“Anak kecil ? Siapa ? lo gak becanda kan ndo?” Tanya ku dengan agak curiga.
“Ya elah, kalo lo gak percaya, lihatlah sendiri sana di ruang tamu. Kasian basah bajunya” Jawab nando sambil berlalu menuju kamarnya di sebelah ujung dan akhirnya menghilang tertelan oleh pekatnya malam.
Dan ketika aku menyadari diriku telah sendiri, akhirnya aku berjalan menuju ruang tamu asrama yang ada di lantai bawah dengan iringan hembusan angin malam yang dingin dan ramainya desiran  suara gelombak ombak yang beradu seakan menyentuh suasana pekatnya malam ini. Walaupun dalam hati aku bertanya “siapakah anak kecil yang datang malam – malam buta begini?” aku pun serontak tak peduli dan mulai mempercepat langkah ku agar cepat mencapai ruang tamu hingga dapat mengetahui siapa anak kecil yang mencariku malam – malam begini.
Setelah sampai, aku agak sedikit tertegun melihat seorang anak laki - laki yang berdiri kaku dengan menggunakan seragam putih dihiasi celana pendek merah yang tidak lain itu adalah seragam anak sekolah dasar, badannya terdesah, menggigil seperti mencoba menahan dinginnya pekat malam dan terlihat baju serta sepatunya terlihat sudah usang dan lusuh seperti habis berjalan menerpa runtuhan debu jalanan.
“Nyek - nyos ?” Sapa ku mencoba mengenali sosok yang aku lihat.
Dia kaget lalu secara reflek membalikan badan dan disitulah aku dapat merasakan aura gelap yang terlepas dari raut wajahnya. Aura yang menggambarkan suatu keadaan tertekan, takut, dan rasa sesal. Tangannya mengepal seperti ada rasa amarah yang menyelimuti pikirannya. Kakinya tertatih, tertahan seperti ada rasa takut yang menghalangi langkahnnya untuk menapakkan telapak kakinya. Tatapnya dingin seperti telah kehilangan asa dan jiwanya. Belum sempat aku bertanya ada apa dia kemari, dia langsung memeluk badanku dengan erat dan menangis seakan – akan dialirkannya semua beban yang dia pikul hari ini kepadaku. Terasa sekali tangisannya adalah tangisan yang berasal dari jiwa yang paling dalam.  Aku pun merangkul dia dengan terdiam sejenak untuk mencoba menyusun kata – kata untuk membuat hatinya tenang.
“Kenapa nyos? Kenapa kamu malam – malam masih keluyuran? Masih pake seragam lagi.” Sambil mengajak dia bersinggah di sofa.
“Papa berantem lagi sama mama mas, Gue sama adek di suruh ngungsi tempat embah.” Kata dia dengan wajah yang datar dan suara lirih hingga terasa hambar bagi setiap orang yang mendengarkanya.
“Bukan berantem, mungkin Papa sama Mama lagi banyak pikiran makannya keliatan agak keras bicaranya. Oh iya lo tidur sini aja nyos. Udah lama kan lo gak nginep sini.” Ungkap ku untuk mengalihkan pembicaraan dan mencairkan suasana.
“Iya mas…”, terdengar lirih tapi memberikan kesan yang mendalam.
Akhirnya kami pun berjalan dari ruang tamu menuju kamarku di lantai dua. Dengan suasana asramaku yang terlihat membisu tanpa adanya suara keadaan kami pun semakin pilu mungkin asrama ini terlalu besar untuk kami jelajahi berdua. Sesekali ku lihat raut sesosok wajah yang lugu itu, terasa sekali seberapa besar beban psikologis yang di panggul seorang bocah kelas 4 sekolah dasar ini. Namanya Bayu, tapi aku akrab memanggilnya Nyek nyos, tadinya adalah anaknya lucu, aktif, dan periang, tetapi sekarang keceriaan dari raut wajahnya sudah jarang aku lihat. Dia adalah anak dari keponakan ibu ku. Aku sangat dekat dengan keluarga kecil mereka bahkan aku sudah menganggap mereka seperti keluarga versi ke dua, karena dari aku yang dulu kecil hingga sekarang sebatang kara di asrama merekalah yang mengurusku seperti kedua orangtua ku, sehingga aku sering menginap disana jika hari libur sekolah atau liburan semester, jadi bukan tanpa alasan aku dan Nyeknyos ini sudah seperti layaknya Abang dengan adiknya. Tetapi, entah kenapa  akhir – akhir ini rumah itu sudah bagai beratap neraka bagi aku dan juga bagi Nyeknyos dan adiknya. Bukan karena keadaan keluarganya yang punya sikap tidak bersahabat, tetapi akhir – akhir ini keegoisan antara tante ku dan oom ku seakan – akan mempunyai andil dan mendominasi dalam rumah tangga mereka. Bukannya aku mau ikut campur dalam urusan orang dewasa, tetapi dulu aku berfikir bahwa orang tua adalah tempat untuk menggantungkan semua mimpi dari sang anak. Tetapi ketika orang tua  sudah tidak mampu menjadi tempat berpijak anak, apa jadinya?  Yah, terserahlah aku tak peduli lah, aku pikir itu mungkin urusan orang dewasa.
Ketika aku terbuai dalam khayalku, tiba – tiba terdengar suara yang agak samar – sama keluar dari mulut sesosok bibir yang kaku. 
“Mas…?”       
“Ngapa nyos?” jawabku agak kaget.
“Bayu gak ngerepotin mamas kan ?” jawabnya tertunduk dan berhenti berjalan.
Aku diam sejenak, ku pegang kedua pundaknya dengan erat menyakinkan dan menatap kedua bola mata yang telah kehilangan sinar semangatnya. Terlihat kelam di dalam kedua bola mata itu pekat dan hitam seakan mencari dan meminta pertolongan, merintih. Aku memang sudah cukup lama tidak pernah meliahat dia tersenyum, ia yang sekarang lebih banyak diam dan menutup sinarnya dari dunia bagai sekuntum mawar yang sudah tidak memiliki duri dan warna. Pahit dan kaku. Bibirku bergetar, seakan aku pun merasakan apa yang ia rasakan saat ini. Ku pejamkan mataku sesaat untuk membuat hatiku tidak terbawa suasana. Ku coba untuk tersenyum untuk membuat dia nyaman, iya senyaman mungkin.
“Apaan sih Nyos? Memang kalo Mas Reza nginep di tempat elo gak sering ngerepotin? Kaya sama sapa aja, yuk lah masuk. Dingin. Ganti baju, basah gitu bajunya nanti masuk angin.”
“Iya mas.”, terdengar hambar tanpa emosi.
Kami pun masuk ke ruangan yang polos, hanya berisi barang – barang dan perabot seadanya yang membisu menyambut kedatangan kami. Nyeknyos langsung aku suruh mengganti pakaiannya dengan pakaianku agar tidak masuk angin, karena memang pakaian yang dikenakannya basah oleh tebalnya balutan embun malam. Seragamnya yang usang aku gantung di depan sebuah kipas angin, supaya esok pagi ia dapat ke sekolah kembali. Belum sempat aku mengambilkan air minum, mataku kembali terbelalak melihat sekujur luka lebam di lapisan punggung dan tangan anak itu. Luka itu terlihat seperti luka yang baru, tetapi Nyeknyos langsung seperti ingin menyembunyikan luka itu dari pandanganku.
“Elu abis berantem?” tanyaku.
“Nggak kok mas, kemaren jatoh di sekolahan.” Jawabnya pelan.
“(sambil memegang pundak) Jangan bohong, gue tau itu luka baru Nyos, hayo kenapa? Cerita nyos.” Paksa ku.
Tiba – tiba Nyeknyos tertunduk dan kembali meneteskan air mata, tangis lirihnya menebar haru dan duka pada ruangan yang kosong ini, tetesan air matanya pun membuat hatiku kembali bersimpuh tak berdaya. Rasa tidak tega pun tergambar jelas pada raut wajahku. Tetapi, aku hanya bisa tampak diam dan tergagap, melihat Nyeknyos menangis, bibir ini seakan terkunci rapat tidak bisa menyampaikan seutas kata pun. Hanya senyap kemudian disusul oleh hening.
Langit di luar terlihat mendung, seakan turut berkonspirasi memberikan ibanya terhadap sesosok bocah yang ada di hadapanku ini. Suara jangkripun mulai tidak menampakan bunyi dan rasanya. Asap susu yang telah aku seduh pun sudah hilang bersama dinginnya malam. Kamar ini kembali bisu dan sepi, tetapi dalam sepi itulah, tampak wajah Nyeknyos berubah menjadi kelabu, bibirnya bergetar dan tertahan, tetpi tidak menimbulkan suara apapun. Malam semakin gelap, waktu pun sudah menunjukan pukul 00.00 dini hari. Aku pun menyuruh Nyeknyos untuk segera tidur, agar besok tidak terlambat ke sekolah, tetapi dia hanya menggelengkan kepalanya. Susu yang ada di tanganya pun tidak terjamah oleh mulutnya. Tetapi, tiba - tiba Nyeknyos pun akhirnya mengeluarkan suaranya yang terdengar berat.
“Mas, Lonte itu apa sih?”
(Kaget) “Husssh, dengar dari mana kamu kata kayak gitu?”
“Tadi mama ngomong kayak gitu ke Bayu mas, apa lonte itu yang udah bikin Papa sama Mama Bayu berantem ya mas?” Urainya polos.
Belum sempat aku menjawab dia langsung berdiri ke arahku dan menggoyangkan tanganku,
“Mas, mamas belum tau kan kenapa luka di badan Bayu tadi? Itu semua mama yang ngelakuin mas? Mama Bayu sendiri.” Ucapnya sambil merintih.
Hancur hatiku, benar – benar hancur berkeping – keping rasanya. Mendengar ucapan yang baru saja ku dengar. Apakah tega seorang ibu melakukan hal tersebut kepada anaknya? Ku benamkan wajahku pada dinding kamarku, kupejamkan kedua mata ini erat, sangat erat. Tidak terasa air mata ini mulai tidak tertahan lagi. Iya, aku menangis.  Bukan tanpa alasan aku samapai menangis seperti ini. Aku sangat mengenal siapa tante ku itu. Tante ku mempunyai darah keturunan yang sama denganku, yaitu darah Betawi campuran Jawa, aku sangat mengenal siapa sosok tanteku, ya walaupun nada bicaranya suka ceplas – ceplos, tapi dia wanita yang sangat lembut, sifat yang sama seperti ibuku sendiri. Aku masih membeku bersandar pada dinding dengan mata terpejam, ku tarik nafas dalam – dalam. Ketika kedua mataku mulai terbuka, kulihat wajah polos Nyeknyos yang terlihat teduh dan dihasi oleh mata yang berkaca – kaca. Sesekali dia masih bertanya dan merengek tentang apa arti “lonte” itu sebenarnya. Kembali, aku membisu dan tidak  menjawab.
Aku usap kedua belah pipi yang basah terbalut air mata dengan kedua belah tanganku. Aku ajak Nyeknyos untuk berbaring di kasur kumal ku. Berdua kami merebahkan diri pada kasur yang sudah tua ini.
“Nyos, ceritakan semuanya.” Ujarku tegas.
Ketegangan dan kegelisahan Nyeknyos mulai meleleh ketika dia menceritakan semua kronologi kejadian yang dia alami akhir – akhir ini. Dimulai dari  kecurigaan tanteku terhadap sms – sms gelap, di hape oom ku, hingga ketika kejadian dimana oom ku tertangkap basah sedang menjalin hubungan birahi dengan wanita lain di dalam rumah. Memang oom ku ini adalah seorang Polisi, masih muda, gagah dan memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap, sehingga wanita mana yang tidak takluk dan bertekuk lutut padanya.
Setelah mendengar semua kronologi yang diceritakan. Aku hanya bisa diam tanpa kata, lalu aku menatap kedua belah mata Nyeknyos dengan dalam, sangat dalam hingga dia nampak beku dan tertunduk dengan bibirnya bergetar menggigit dan tangannya meremas bajunya seakan rasa kecewa itu benar – benar telah merasuki dan menyelimuti jiwanya.  Akhirnya, wajah yang teduh tadi mulai melelehkan air matanya, yang sejak tadi telah tertahan.
“Sudah, Nyos… “ Hiburku.
Bayu takut mas, Bayu takut kehilangan keluarga. Mama, papa, Adik, semuanya mas” Sambil menangis.
“Iya, Mas Reza paham, sudahlah. Nyos. Besok Mas Reza antar kamu ke rumah ya.”
“Iya… “ Ucap Bayu dengan gemetar.
Dingin diluar telah merambat hingga kedalam kamar, tidak terasa perbincangan aku dengan Nyeknyos sampai pada pukul 02.00 dini hari. Aku  melebarkan selimut, untuk menutupi seluruh penjuru tubuh agar tidak terserang oleh tajamnya dingin, aku lihat lagi sesosok tubuh yang mulai tenang karena penat.
“Nyos, tidur ya,. Soal besok, Mas Reza coba bicara dengan Mama mu. InsyaAlloh, Bayu gak sendirian kok, kita hadapi sama – sama.”
Wajah yang sudah lama ingin aku lihat, wajah yang riang, senyum yang polos Bayu kembali merekah, senyum yang menggambarkan keteduhan dan kenyamanan serta kepolosan seorang anak kecil. Putih, tanpa dosa.
“Terimakasih, Mas….” (sambil terlelap hanyut kedalam alam bawah sadar yang mulai mengambil alih jiwa anak ini.) Bayu pun tertidur dengan berlinang air mata. Ku seka semua air mata itu agar tidak menghalangi indahnya senyum yang terpancar di wajah polosnya.
Kembali, ku pejamkan kedua bola mata, rasa kantuk dan penat mulai merambahi seliruh tubuhku. Malam ini pun seakan jadi saksi, bahwa Tuhan telah memberi  isyaratnya, bahwa hari telah malam. Malam ini pula aku belajar banyak, tentang apa arti orang tua itu sebenarnya. Terimakasih keponakanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar