RETAK LALU PECAH
Malam sudah semakin larut, suara burung
pun membisu seakan tenggelam di dalam pekatnya malam. Yang tersisa hanyalah
suara rintihan jangkrik yamg terbenam di balik rimbunnya rumput ilalang belakang asrama. Kota Kalianda ini sudah hampa
diselimuti oleh tenangnya hipnotis alam. Tetapi anehnya mata ini belum bisa
menutup dirinya sendiri, seakan – akan dirinya masih berhasrat untuk meresapi
heningnya jeritan ombak di malam ini. Aku pun beranjak dari alas tidurku ke
arah jendela kamar. Ku lihat dari balik jendela bapak – bapak yang sedang
berkumpul di sebuah alas gardu untuk ronda, merokok, tertawa, dan bercanda. Kembali
ku duduk di depan kursi belajarku, kurebahkan semua rasa penatku pada kursi
ini, menatap beku ke seluruh penjuru kamar, sepintas kamar ini mengingatkan ku
pada kerinduan suasana rumah, tapi ya faktanya raga ku bukan berada disana. Mungkin
kamar ini terlalu besar untuk di tiduri oleh manusia kerdil semacam aku. Tersadar
dari lamunan, ku lihat lentikan jarum jam pun sudah menunjukan jam 11 malam. Malam ini semakin sepi, aku
memejamkan mata sejenak dan mencoba menarik nafas panjang untuk menyeimbangkan
kebimbangan dalam bathin ku yang mulai layu terkikis oleh rasa kesal, tetapi
tarikan nafas yang panjang ini seakan tidak membantu, malah sebaliknya mata ini
semakin tidak mau menempel. Ini
bukan pertama kalinya aku sulit merehatkan diri, bukan karena terlalu banyak
pikiran, tapi memang seakan – akan tubuh ini memiliki gejolak untuk bisa
menaklukan dinginnya malam. Aku kembali beranjak dari lamunan bodohku tadi
untuk menuju sebuah kursi pelastik yang berada tepat di depan meja belajarku,
aku tenggak sisa air susu yang masih tersisa di dalam ruang gelas untuk
menghilangkan rasa kering yang menyelimuti ruang tenggorokan ku.
“Ah,
Kampret, ayo dongg mata tidur. Gue besok sekolah nih. Bisa telat besok gue.”
Teriakku agak kesal.
Setelah sedikit berteriak tadi, tiba -
tiba terdengar suara ketukan dari balik pintu kamarku. Aku sedikit kaget. Siapa
yang bertamu larut malam begini?
“Zaa,
zaa… Udah tidur ya ?” Seseorang dari balik
sana memanggilku dengan suara yang berat, yang tidak lain itu adalah suara
kawan ku Nando siswa keturunan padang asli.
“Iya,
Uda sebentar…” Jawabku santai, sembari berjalan
menuju pintu kamar.
Aku membuka pintu kamar dan melihat
sesosok wajah asli keturunan Padang, putih dengan di hiasi alis yang tebal.
“Ado
apo uda ini, malam – malam begini mengagetkan awak sajo”
jawab ku dengan logat padang bercampur betawi.
“ah
sudah jangan mengejejek gue deh lo, eh tu ada anak kecil nyariin elu”
kata Nando dengan agak kesal.
“Anak
kecil ? Siapa ? lo gak becanda kan ndo?” Tanya
ku dengan agak curiga.
“Ya
elah, kalo lo gak percaya, lihatlah sendiri sana di ruang tamu. Kasian basah
bajunya” Jawab nando sambil berlalu menuju
kamarnya di sebelah ujung dan akhirnya menghilang tertelan oleh pekatnya malam.
Dan ketika aku menyadari diriku telah
sendiri, akhirnya aku berjalan menuju ruang tamu asrama yang ada di lantai
bawah dengan iringan hembusan angin malam yang dingin dan ramainya desiran suara gelombak ombak yang beradu seakan
menyentuh suasana pekatnya malam ini. Walaupun dalam hati aku bertanya
“siapakah anak kecil yang datang malam – malam buta begini?” aku pun serontak
tak peduli dan mulai mempercepat langkah ku agar cepat mencapai ruang tamu
hingga dapat mengetahui siapa anak kecil yang mencariku malam – malam begini.
Setelah sampai, aku agak sedikit
tertegun melihat seorang anak laki - laki yang berdiri kaku dengan menggunakan
seragam putih dihiasi celana pendek merah yang tidak lain itu adalah seragam
anak sekolah dasar, badannya terdesah, menggigil seperti mencoba menahan
dinginnya pekat malam dan terlihat baju serta sepatunya terlihat sudah usang
dan lusuh seperti habis berjalan menerpa runtuhan debu jalanan.
“Nyek
- nyos ?” Sapa ku mencoba mengenali sosok yang
aku lihat.
Dia kaget lalu secara reflek membalikan
badan dan disitulah aku dapat merasakan aura gelap yang terlepas dari raut
wajahnya. Aura yang menggambarkan suatu keadaan tertekan, takut, dan rasa
sesal. Tangannya mengepal seperti ada rasa amarah yang menyelimuti pikirannya.
Kakinya tertatih, tertahan seperti ada rasa takut yang menghalangi langkahnnya
untuk menapakkan telapak kakinya. Tatapnya dingin seperti telah kehilangan asa
dan jiwanya. Belum sempat aku bertanya ada apa dia kemari, dia langsung memeluk
badanku dengan erat dan menangis seakan – akan dialirkannya semua beban yang
dia pikul hari ini kepadaku. Terasa sekali tangisannya adalah tangisan yang
berasal dari jiwa yang paling dalam. Aku
pun merangkul dia dengan terdiam sejenak untuk mencoba menyusun kata – kata
untuk membuat hatinya tenang.
“Kenapa
nyos? Kenapa kamu malam – malam masih keluyuran? Masih pake seragam lagi.” Sambil
mengajak dia bersinggah di sofa.
“Papa
berantem lagi sama mama mas, Gue sama adek di suruh ngungsi tempat embah.”
Kata dia dengan wajah yang datar dan suara lirih hingga terasa hambar bagi
setiap orang yang mendengarkanya.
“Bukan
berantem, mungkin Papa sama Mama lagi banyak pikiran makannya keliatan agak
keras bicaranya. Oh iya lo tidur sini aja nyos. Udah lama kan lo gak nginep
sini.” Ungkap ku untuk mengalihkan pembicaraan
dan mencairkan suasana.
“Iya mas…”, terdengar lirih tapi
memberikan kesan yang mendalam.
Akhirnya kami pun berjalan dari ruang
tamu menuju kamarku di lantai dua. Dengan suasana asramaku yang terlihat membisu
tanpa adanya suara keadaan kami pun semakin pilu mungkin asrama ini terlalu
besar untuk kami jelajahi berdua. Sesekali ku lihat raut sesosok wajah yang
lugu itu, terasa sekali seberapa besar beban psikologis yang di panggul seorang
bocah kelas 4 sekolah dasar ini. Namanya Bayu, tapi aku akrab memanggilnya Nyek
nyos, tadinya adalah anaknya lucu, aktif, dan periang, tetapi sekarang
keceriaan dari raut wajahnya sudah jarang aku lihat. Dia adalah anak dari
keponakan ibu ku. Aku sangat dekat dengan keluarga kecil mereka bahkan aku
sudah menganggap mereka seperti keluarga versi ke dua, karena dari aku yang
dulu kecil hingga sekarang sebatang kara di asrama merekalah yang mengurusku
seperti kedua orangtua ku, sehingga aku sering menginap disana jika hari libur sekolah
atau liburan semester, jadi bukan tanpa alasan aku dan Nyeknyos ini sudah
seperti layaknya Abang dengan adiknya. Tetapi, entah kenapa akhir – akhir ini rumah itu sudah bagai
beratap neraka bagi aku dan juga bagi Nyeknyos dan adiknya. Bukan karena keadaan
keluarganya yang punya sikap tidak bersahabat, tetapi akhir – akhir ini
keegoisan antara tante ku dan oom ku seakan – akan mempunyai andil dan
mendominasi dalam rumah tangga mereka. Bukannya aku mau ikut campur dalam
urusan orang dewasa, tetapi dulu aku berfikir bahwa orang tua adalah tempat
untuk menggantungkan semua mimpi dari sang anak. Tetapi ketika orang tua sudah tidak mampu menjadi tempat berpijak
anak, apa jadinya? Yah, terserahlah aku
tak peduli lah, aku pikir itu mungkin urusan orang dewasa.
Ketika aku terbuai dalam khayalku, tiba
– tiba terdengar suara yang agak samar – sama keluar dari mulut sesosok bibir
yang kaku.
“Mas…?”
“Ngapa
nyos?” jawabku agak kaget.
“Bayu
gak ngerepotin mamas kan ?” jawabnya tertunduk dan
berhenti berjalan.
Aku diam sejenak, ku pegang kedua
pundaknya dengan erat menyakinkan dan menatap kedua bola mata yang telah
kehilangan sinar semangatnya. Terlihat kelam di dalam kedua bola mata itu pekat
dan hitam seakan mencari dan meminta pertolongan, merintih. Aku memang sudah
cukup lama tidak pernah meliahat dia tersenyum, ia yang sekarang lebih banyak
diam dan menutup sinarnya dari dunia bagai sekuntum mawar yang sudah tidak
memiliki duri dan warna. Pahit dan kaku. Bibirku bergetar, seakan aku pun
merasakan apa yang ia rasakan saat ini. Ku pejamkan mataku sesaat untuk membuat
hatiku tidak terbawa suasana. Ku coba untuk tersenyum untuk membuat dia nyaman,
iya senyaman mungkin.
“Apaan
sih Nyos? Memang kalo Mas Reza nginep di tempat elo gak sering ngerepotin? Kaya
sama sapa aja, yuk lah masuk. Dingin. Ganti baju, basah gitu bajunya nanti
masuk angin.”
“Iya
mas.”, terdengar hambar tanpa emosi.
Kami pun masuk ke ruangan yang polos,
hanya berisi barang – barang dan perabot seadanya yang membisu menyambut
kedatangan kami. Nyeknyos langsung aku suruh mengganti pakaiannya dengan
pakaianku agar tidak masuk angin, karena memang pakaian yang dikenakannya basah
oleh tebalnya balutan embun malam. Seragamnya yang usang aku gantung di depan
sebuah kipas angin, supaya esok pagi ia dapat ke sekolah kembali. Belum sempat
aku mengambilkan air minum, mataku kembali terbelalak melihat sekujur luka
lebam di lapisan punggung dan tangan anak itu. Luka itu terlihat seperti luka
yang baru, tetapi Nyeknyos langsung seperti ingin menyembunyikan luka itu dari
pandanganku.
“Elu
abis berantem?” tanyaku.
“Nggak
kok mas, kemaren jatoh di sekolahan.” Jawabnya
pelan.
“(sambil memegang pundak) Jangan bohong, gue tau itu luka baru Nyos,
hayo kenapa? Cerita nyos.” Paksa ku.
Tiba – tiba Nyeknyos tertunduk dan
kembali meneteskan air mata, tangis lirihnya menebar haru dan duka pada ruangan
yang kosong ini, tetesan air matanya pun membuat hatiku kembali bersimpuh tak
berdaya. Rasa tidak tega pun tergambar jelas pada raut wajahku. Tetapi, aku
hanya bisa tampak diam dan tergagap, melihat Nyeknyos menangis, bibir ini
seakan terkunci rapat tidak bisa menyampaikan seutas kata pun. Hanya senyap
kemudian disusul oleh hening.
Langit di luar terlihat mendung, seakan
turut berkonspirasi memberikan ibanya terhadap sesosok bocah yang ada di
hadapanku ini. Suara jangkripun mulai tidak menampakan bunyi dan rasanya. Asap
susu yang telah aku seduh pun sudah hilang bersama dinginnya malam. Kamar ini
kembali bisu dan sepi, tetapi dalam sepi itulah, tampak wajah Nyeknyos berubah
menjadi kelabu, bibirnya bergetar dan tertahan, tetpi tidak menimbulkan suara
apapun. Malam semakin gelap, waktu pun sudah menunjukan pukul 00.00 dini hari.
Aku pun menyuruh Nyeknyos untuk segera tidur, agar besok tidak terlambat ke
sekolah, tetapi dia hanya menggelengkan kepalanya. Susu yang ada di tanganya
pun tidak terjamah oleh mulutnya. Tetapi, tiba - tiba Nyeknyos pun akhirnya
mengeluarkan suaranya yang terdengar berat.
“Mas,
Lonte itu apa sih?”
(Kaget) “Husssh, dengar dari mana kamu kata kayak gitu?”
“Tadi
mama ngomong kayak gitu ke Bayu mas, apa lonte itu yang udah bikin Papa sama
Mama Bayu berantem ya mas?” Urainya polos.
Belum sempat aku menjawab dia langsung
berdiri ke arahku dan menggoyangkan tanganku,
“Mas, mamas belum tau kan kenapa luka di
badan Bayu tadi? Itu semua mama yang ngelakuin mas? Mama Bayu sendiri.” Ucapnya
sambil merintih.
Hancur hatiku, benar – benar hancur
berkeping – keping rasanya. Mendengar ucapan yang baru saja ku dengar. Apakah
tega seorang ibu melakukan hal tersebut kepada anaknya? Ku benamkan wajahku
pada dinding kamarku, kupejamkan kedua mata ini erat, sangat erat. Tidak terasa
air mata ini mulai tidak tertahan lagi. Iya, aku menangis. Bukan tanpa alasan aku samapai menangis
seperti ini. Aku sangat mengenal siapa tante ku itu. Tante ku mempunyai darah
keturunan yang sama denganku, yaitu darah Betawi campuran Jawa, aku sangat
mengenal siapa sosok tanteku, ya walaupun nada bicaranya suka ceplas – ceplos,
tapi dia wanita yang sangat lembut, sifat yang sama seperti ibuku sendiri. Aku
masih membeku bersandar pada dinding dengan mata terpejam, ku tarik nafas dalam
– dalam. Ketika kedua mataku mulai terbuka, kulihat wajah polos Nyeknyos yang
terlihat teduh dan dihasi oleh mata yang berkaca – kaca. Sesekali dia masih
bertanya dan merengek tentang apa arti “lonte”
itu sebenarnya. Kembali, aku membisu dan tidak
menjawab.
Aku usap kedua belah pipi yang basah
terbalut air mata dengan kedua belah tanganku. Aku ajak Nyeknyos untuk
berbaring di kasur kumal ku. Berdua kami merebahkan diri pada kasur yang sudah
tua ini.
“Nyos,
ceritakan semuanya.” Ujarku tegas.
Ketegangan dan kegelisahan Nyeknyos
mulai meleleh ketika dia menceritakan semua kronologi kejadian yang dia alami
akhir – akhir ini. Dimulai dari
kecurigaan tanteku terhadap sms – sms gelap, di hape oom ku, hingga
ketika kejadian dimana oom ku tertangkap basah sedang menjalin hubungan birahi
dengan wanita lain di dalam rumah. Memang oom ku ini adalah seorang Polisi,
masih muda, gagah dan memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap, sehingga
wanita mana yang tidak takluk dan bertekuk lutut padanya.
Setelah mendengar semua kronologi yang
diceritakan. Aku hanya bisa diam tanpa kata, lalu aku menatap kedua belah mata
Nyeknyos dengan dalam, sangat dalam hingga dia nampak beku dan tertunduk dengan
bibirnya bergetar menggigit dan tangannya meremas bajunya seakan rasa kecewa
itu benar – benar telah merasuki dan menyelimuti jiwanya. Akhirnya, wajah yang teduh tadi mulai
melelehkan air matanya, yang sejak tadi telah tertahan.
“Sudah,
Nyos… “ Hiburku.
“Bayu
takut mas, Bayu takut kehilangan keluarga. Mama, papa, Adik, semuanya mas”
Sambil menangis.
“Iya,
Mas Reza paham, sudahlah. Nyos. Besok Mas Reza antar kamu ke rumah ya.”
“Iya…
“ Ucap Bayu dengan gemetar.
Dingin diluar telah merambat hingga
kedalam kamar, tidak terasa perbincangan aku dengan Nyeknyos sampai pada pukul
02.00 dini hari. Aku melebarkan selimut,
untuk menutupi seluruh penjuru tubuh agar tidak terserang oleh tajamnya dingin,
aku lihat lagi sesosok tubuh yang mulai tenang karena penat.
“Nyos,
tidur ya,. Soal besok, Mas Reza coba bicara dengan Mama mu. InsyaAlloh, Bayu
gak sendirian kok, kita hadapi sama – sama.”
Wajah yang sudah lama ingin aku lihat,
wajah yang riang, senyum yang polos Bayu kembali merekah, senyum yang
menggambarkan keteduhan dan kenyamanan serta kepolosan seorang anak kecil. Putih,
tanpa dosa.
“Terimakasih,
Mas….” (sambil terlelap hanyut kedalam alam
bawah sadar yang mulai mengambil alih jiwa anak ini.) Bayu pun tertidur dengan berlinang
air mata. Ku seka semua air mata itu agar tidak menghalangi indahnya senyum
yang terpancar di wajah polosnya.
Kembali, ku pejamkan kedua bola mata,
rasa kantuk dan penat mulai merambahi seliruh tubuhku. Malam ini pun seakan
jadi saksi, bahwa Tuhan telah memberi
isyaratnya, bahwa hari telah malam. Malam ini pula aku belajar banyak, tentang
apa arti orang tua itu sebenarnya. Terimakasih keponakanku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar